Yang tak mungkin kulupakan.Tamat Bu Evi diam saja. “Asyik dong, jadi aman…” jawabku sambil tersenyum. Bokeb Tak perlu vitalitas. Tapi dia menepiskan tanganku.“Duduknya di belakang saja Pak, di sini takut dilihat orang”
Senangnya hatiku. Rambutnya yang tak ditutupi, tampak tergerai, panjang lebat dan ikal. Entah kenapa, suasana sunyi itu membuatku tiba-tiba iseng memegang tangan Bu Evi.“Bisa dua jam kita menunggu di sini, Bu.”
“Iya Pak,” sahutnya tanpa menepiskan genggamanku,
“Sabar aja Pak, dalam bisnis memang suka ada ujiannya.”Aku terdiam, tapi tidak dengan tanganku. Terimakasih sayang….mulai saat ini Bu Evi jadi istri rahasiaku…” jawabku dengan ciuman hangat di bibirnya.




















