Kesempatan waktu luang ini kugunakan untuk menjemput isteriku. “Sudah diam Mi, tak boleh cengeng. Vidio Bokep Ah, semuanya indah-indah dan kelihatan harganya begitu mahal. Dan tentu, ketika pulang benak ini penuh dengan jumput-jumput harapan untuk menemukan baiti jannati di rumahku. Rumah ini berantakan karena memang Ummi tak bisa mengerjakan apa-apa. Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. “Ya sudah, kalau Abi sibuk, Ummi naik bis umum saja, mudah-mudahan nggak pingsan di jalan,” jawab isteriku. Kulihat dua ukhti berjalan melintas sambil menggendong bocah mungil yang berjilbab indah dan cerah, secerah warna baju dan jilbab umminya. “Ini dia mujahidah (*) ku!” pekik hatiku. Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara belum selesai.




















