Bibir mungilnya menyimpulkan senyum kecil sambil melirik kearahku setengah tersipu.Secara natural akupun menyeka keringat di dahi dan pipinya, mbak nilapun menyambut tanganku dan menggenggamnya mesra. Bokeb Sedepp legitttt…” Ujarku lagi setengah sadar.“Mmm iyaa? Tadinya aku memang sengaja memilih tempat yang cukup strategis yaitu di pojok ujung dekat dengan dapur umum (sebenarnya hanya dapur sederhana dengan satu buah kompor dan tempat cuci piring). Ia pun bergerak mendekatan wajahnya hingga tinggal berjarak sejengkal dari wajahku. Meskipun aku tak pernah tahu umur aslinya berapa, namun perkiraanku ia berkisar di 20an akhir atau 30an awal. Dan yang jelas burungku terasa nikmat sekali. Apalagi saat itu gajiku masih standar fresh graduate, otomatis aku harus mencari yang harganya




















